Bahan :
10 lembar kulit pastel
2 butir putih telur
Minyak goreng secukupnya
Isi:
1/2 kg daging cincang
2 buah kentang
1 buah wortel
jamur kancing
1 buah bawang bombay
5 siung bawang merah
3 siung bawang putih
2 sdm saus tiran
Garam,gula,lada sckpnya
Cara membuat :
1. Membuat isi:Tumis bawang bombay,bawang merah,bawang putih yang sudah dipotong hingga harum.Kemudian,masukkan daging,kentang wortel yang sudah dipotong dadu.Tambahkan saus tiram,garam,gula,lada secukupnya.Tiriskan
2. Setelah itu ambil lembar kulit pastel kemudian beri isian 2 sendok.Lipat dan olesi pinggaranya denag telur agar menempel,Ulangi hingga habis.
MyWorld
Selasa, 24 April 2012
Terimakasih
Dulunya aku sama sekali tak berniat menjadi seorang PERAWAT dimana anggapanQ dulu kalau seorang perawat adalah seorang pembantu tapi karena orang tua lah aq harus mengalah.Meskipun sudah mengikuti berbagai macam test buat jadi Guru tapi pada akhirnya ibu masih menginginkan anaknya jadi seorang tenaga kesehatan.
Tahun 2009 saat aQ mendaftarkan diri kuliah di salah satu sekolah tinggi kesehatah di kotaQ sebenarnya sangat berat karena bukan keinginanQ.Setelah ditawari oleh petugas penerima MABA"Mbak pilih prodi bidan apa perawat?".Q sempat bingung,dengan seenaknya aQ jawab "Bidan Mbak".
Setelah sampai dirumah aQ merenung,yang jadi bidan di desaQ kan banyak?lah nanti aQ kerja dimana?dari situ esoknya aku menukarkan formulir untuk prodi S1 KEPERAWATAN dimana hidupQ akan Q habiskan selama 5tahun disana.Oh My God!
Saat pengumuman aku lulus test,tapi sama sekali hatiku tak senang beda dengan MABA yang lain dimana mereka menunjukan ekspresi kesenangan mereka seperti halnya dengan ibuQ.
Perjalanan semester pertama masih Q jalani dengan terpaksa dan masih belum ikhlas dalam menjalani takdirQ, Q masih tidak suka dengan apa yang ku jalani, tapi lambat laun aQ pun mulai menyukai ilmu kesehatan dimana didalamnya terdapat banyak seni dan banyak menolong orang,dan apa yang selama ini aku bayangkan kalau PERWAT hanya seorang pembantu sama sekali tidak.Justru karena perawat lah yang sangat berjasa pada pasien,tanpa pamrih mengorbankan keluarganya demi pasien,Pagi,siang,malam rela bekerja meskipun imbalannya sesua.Perawat seharusnya dihargai seperti guru.Mustahil tanpa perawat Rumah sakit bisa berjalan.
Dan perawat adalah Mitra Dokter bukan Pembantu Dokter.Keistimewaan jadi seorang perawat Q alami saat Q praktek,meskipun lelah tapi hati senang bisa membantu orang lain yang tak berdaya.
Q mulai senang dengan kehidupan yang Q jalani sekarang,jadi mahasiswa S1 Keperawatan,seorang calon perawat ditambah aQ menemukan seseorang yang bisa mengerti aQ,selalu menemani aQ dan mensupportQ disaat Q bersedih.I LOVE U(20.09.12)
Tuhan memang adil,dy merencanakan sesuatu yang tak terduga.
Terimakasih Ibu
Tahun 2009 saat aQ mendaftarkan diri kuliah di salah satu sekolah tinggi kesehatah di kotaQ sebenarnya sangat berat karena bukan keinginanQ.Setelah ditawari oleh petugas penerima MABA"Mbak pilih prodi bidan apa perawat?".Q sempat bingung,dengan seenaknya aQ jawab "Bidan Mbak".
Setelah sampai dirumah aQ merenung,yang jadi bidan di desaQ kan banyak?lah nanti aQ kerja dimana?dari situ esoknya aku menukarkan formulir untuk prodi S1 KEPERAWATAN dimana hidupQ akan Q habiskan selama 5tahun disana.Oh My God!
Saat pengumuman aku lulus test,tapi sama sekali hatiku tak senang beda dengan MABA yang lain dimana mereka menunjukan ekspresi kesenangan mereka seperti halnya dengan ibuQ.
Perjalanan semester pertama masih Q jalani dengan terpaksa dan masih belum ikhlas dalam menjalani takdirQ, Q masih tidak suka dengan apa yang ku jalani, tapi lambat laun aQ pun mulai menyukai ilmu kesehatan dimana didalamnya terdapat banyak seni dan banyak menolong orang,dan apa yang selama ini aku bayangkan kalau PERWAT hanya seorang pembantu sama sekali tidak.Justru karena perawat lah yang sangat berjasa pada pasien,tanpa pamrih mengorbankan keluarganya demi pasien,Pagi,siang,malam rela bekerja meskipun imbalannya sesua.Perawat seharusnya dihargai seperti guru.Mustahil tanpa perawat Rumah sakit bisa berjalan.
Dan perawat adalah Mitra Dokter bukan Pembantu Dokter.Keistimewaan jadi seorang perawat Q alami saat Q praktek,meskipun lelah tapi hati senang bisa membantu orang lain yang tak berdaya.
Q mulai senang dengan kehidupan yang Q jalani sekarang,jadi mahasiswa S1 Keperawatan,seorang calon perawat ditambah aQ menemukan seseorang yang bisa mengerti aQ,selalu menemani aQ dan mensupportQ disaat Q bersedih.I LOVE U(20.09.12)
Tuhan memang adil,dy merencanakan sesuatu yang tak terduga.
Terimakasih Ibu
Askep BPH
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Kelenjar prostat
adalah salah satu organ genital pria yang terletak di bawah kandung kencing dan
mengelilingi uretra(saluran kencing). Normal bentuknya sebesar buah kenari
dengan berat pada orang dewasa sekitar 20 gram. Kelenjar prostat juga
memproduksi cairan prostat yang juga merupakan salah satu unsure pembentuk
semen pada wajah ejakulasi(Saraswati,2006).
Pembesaran
kelenjar prostat mempunyai angka morbiditas yang bermakna pada populasi pria
lanjut usia. Gejalanya merupakan keluhan yang umum dalam bidang bedah urologi.
Hiperplasia prostat merupakan salah satu masalah kesehatan utama bagi pria
diatas usia 50 tahun dan berperan dalam penurunan kualitas hidup seseorang.
Suatu penelitian menyebutkan bahwa sepertiga dari pria berusia antara 50 dan 79
tahun mengalami hyperplasia prostat. Adanya hiperplasia ini akan menyebabkan
terjadinya obstruksi saluran kemih dan untuk mengatasi obstruksi ini dapat
dilakukan dengan berbagai cara mulai dari tindakan yang paling ringan yaitu secara
konservatif (non operatif) sampai tindakan yang paling berat yaitu operasi (Smeltezr,
2000). Dengan teknologi dan kemajuan ilmu yang semakin canggih dalam
kehidupan ini banyak membawa dampak negatif pada kehidupan masyarakat terhadap
peningkatan kualitas hidup, status kesehatan, umur dan harapan hidup. Dengan
kondisi tersebut merubah kondisi status penyakit infeksi yang dulu menjadi
urutan pertama kini bergeser pada penyakit degeneratif yang menjadi urutan
pertama. Di Amerika Serikat, terdapat lebih dari setengah (50%) pada laki-laki
usia 60-70 tahun mengalami gejala-gejala BPH dan antara usia 70-90 tahun sebanyak
90% mengalami gejala-gejala BPH. Hasil riset menunjukkan bahwa laki-laki di
daerah pedesaan sangat rendah terkena BPH dibanding dengan laki-laki yang hidup
di daerah perkotaan. Hal ini terkait dengan gaya hidup seseorang.Laki-laki yang
bergaya hidup modern kebih besar terkena BPH dibanding dengan laki-laki
pedesaan (Madjid dan Suharyanto, 2009).
Di
Indonesia pada usia lanjut, beberapa pria mengalami pembesaran prostat benigna.
Keadaan ini di alami oleh 50% pria yang berusia 60 tahun dan kurang lebih 80%
pria yang berusia 80 tahun (Nursalam dan Fransisca,2006). Menurut
pengamatan peneliti selama praktek 1 bulan di Rumah Sakit Umum Daerah Sukoharjo
pada tanggal 12 november 2010, di ruang rawat inap khususnya bangsal bedah
Anggrek, dari 30 pasien terdapat 5 pasien yang menderita BPH rata-rata
penderita berusia di atas 50 tahun dan berjenis kelamin laki-laki.
B. Rumusan
Masalah
C.
Tujuan
1.
Tujuan Umum
Mahasiswa
dapat memahami dan menerapkan asuhan keperawatan pada pasien BPH
2.
Tujuan
Khusus
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Hiperplasia prostat adalah pembesanan prostat yang jinak
bervariasi berupa hiperplasia kelenjar atau hiperplasia fibromuskular. Namun
orang sering menyebutnya dengan hipertropi prostat namun secara histologi yang
dominan adalah hyperplasia (Sabiston, David C,1994)
Hiperplasia prostat jinak (BPH) adalah penyakit yang
disebabkan oleh penuaan. Price&Wilson (2005)
Hiperplasi prostat adalah pembesaran progresif dari kelenjar
prostat ( secara umum pada pria > 50 tahun) yang menyebabkan berbagai
derajat obstruksi uretra dan pembiasan aliran urinarius. (Doenges, 1999)
BPH adalah suatu keadaan dimana prostat mengalami pembesaran
memanjang keatas kedalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan cara
menutupi orifisium uretra. (Smeltzer dan Bare, 2002)
Jadi BPH (benign prostatic hyperplasia) adalah suatu
penyakit yang disebabkan oleh faktor penuaan, dimana prostat mengalami
pembesaran memanjang keatas kedalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin
dengan cara menutupi orifisium uretra. Prostatektomy merupakan
tindakan pembedahan bagian prostate (sebagian/seluruh) yang memotong uretra,
bertujuan untuk memeperbaiki aliran urin dan menghilangkan retensi urinaria
akut.
B.
Etiologi
Menurut
Purnomo (2000), hingga sekarang belum diketahui secara pasti penyebab prostat
hiperplasi, tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasi prostat erat
kaitannya dengan peningkatan kadar dehidrotestosteron (DHT) dan proses penuaan.
Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya hiperplasi prostat
adalah :
1. Adanya perubahan keseimbangan antara hormon testosteron
dan estrogen pada usia lanjut;
2. Peranan dari growth factor (faktor pertumbuhan)
sebagai pemicu pertumbuhan stroma kelenjar prostat;
3. Meningkatnya lama hidup sel-sel prostat karena
berkurangnya sel yang mati;
4. Teori sel stem, menerangkan bahwa terjadi proliferasi
abnormal sel stem sehingga menyebabkan produksi sel stroma dan sel epitel
kelenjar prostat menjadi berlebihan.
Pada umumnya dikemukakan beberapa teori :
1. Teori Sel Stem, sel baru biasanya tumbuh dari sel srem.
Oleh karena suatu sebab seperti faktor usia, gangguan keseimbangan hormon atau
faktor pencetus lain. Maka sel stem dapat berproliferasi dengan cepat, sehingga
terjadi hiperplasi kelenjar periuretral.
2. Teori kedua adalah teori Reawekering (Neal, 1978)
menyebutkan bahwa jaringan kembali seperti perkembangan pada masa tingkat
embriologi sehingga jaringan periuretral dapat tumbuh lebih cepat dari jaringan
sekitarnya.
3. Teori lain adalah teori keseimbangan hormonal yang
menyebutkan bahwa dengan bertanbahnya umur menyebabkan terjadinya produksi
testoteron dan terjadinya konversi testoteron menjadi setrogen. ( Kahardjo,
1995).
C. Manifestasi
Klinik
Gambaran klinis pada
hiperplasi prostat digolongkan dua tanda gejala yaitu obstruksi dan iritasi.
Gejala obstruksi disebabkan detrusor gagal berkontraksi dengan cukup lama dan
kuat sehingga mengakibatkan: pancaran miksi melemah, rasa tidak puas sehabis
miksi, kalau mau miksi harus menunggu lama (hesitancy), harus mengejan (straining)
kencing terputus-putus (intermittency), dan waktu miksi memanjang yang
akhirnya menjadi retensio urin dan inkontinen karena overflow.
Gejala iritasi,
terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna atau pembesaran prostat akan
merangsang kandung kemih, sehingga sering berkontraksi walaupun belum penuh
atau dikatakan sebagai hipersenitivitas otot detrusor dengan tanda dan gejala
antara lain: sering miksi (frekwensi), terbangun untuk miksi pada malam hari
(nokturia), perasaan ingin miksi yang mendesak (urgensi), dan nyeri pada saat
miksi (disuria) (Mansjoer, 2000)
Derajat berat BPH
menurut Sjamsuhidajat (2005) dibedakan menjadi 4 stadium
:
1. Stadium I
Ada obstruktif tapi kandung kemih masih mampu
mengeluarkan urine sampai habis.
2. Stadium II
Ada retensi urine tetapi kandung kemih mampu mengeluarkan
urine walaupun tidak sampai habis, masih tersisa kira-kira 60-150 cc. Ada rasa ridak enak BAK atau disuria dan menjadi
nocturia.
3. Stadium III
Setiap BAK urine tersisa kira-kira 150 cc.
4. Stadium IV
Retensi urine total, buli-buli penuh pasien tampak
kesakitan, urine menetes secara peri odik
(over flow inkontinen).
Menurut Brunner and Suddarth (2002) menyebutkan bahwa :
Manifestasi dari BPH adalah peningkatan frekuensi penuh, nokturia, dorongan
ingin berkemih, anyang-anyangan, abdomen tegang, volume urine yang turun dan
harus mengejan saat berkemih, aliran urine tak lancar, dribbing (urine
terus menerus setelah berkemih), retensi urine akut.
Adapun pemeriksaan kelenjar prostat melalui pemeriksaan di bawah ini :
1. Rectal Gradding
Dilakukan pada waktu vesika urinaria kosong :
Grade 0 : Penonjolan prostat 0-1 cm ke dalam rectum.
Grade 1 : Penonjolan prostat 1-2 cm ke dalam rectum.
Grade 2 : Penonjolan prostat 2-3 cm ke dalam rectum.
Grade 3 : Penonjolan prostat 3-4 cm ke dalam rectum.
Grade 4 : Penonjolan prostat 4-5 cm ke dalam rectum.
2. Clinical Gradding
Banyaknya sisa urine diukur tiap pagi hari setelah bangun
tidur, disuruh kencing dahulu kemudian dipasang kateter.
Normal : Tidak ada sisa
Grade I : sisa 0-50 cc
Grade II : sisa 50-150 cc
Grade III : sisa > 150 cc
Grade IV : pasien sama sekali tidak bisa kencing.
D.
Patofisiologi
E.
Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi pada pasien BPH antara
lain: sering dengan semakin beratnya BPH, dapat terjadi obstruksi saluran kemih, karena urin tidak mampu melewati
prostat. Hal ini dapat menyebabkan infeksi saluran kemih dan apabila
tidak diobati, dapat mengakibatkan gagal ginjal. (Corwin, 2000)
Kerusakan traktus
urinarius bagian atas akibat dari obstruksi kronik mengakibatkan penderita
harus mengejan pada miksi yang menyebabkan peningkatan tekanan intraabdomen
yang akan menimbulkan hernia dan hemoroid. Stasis urin dalam vesiko urinaria
akan membentuk batu endapan yang menambah keluhan iritasi dan hematuria. Selain
itu, stasis urin dalam vesika urinaria menjadikan media pertumbuhan
mikroorganisme, yang dapat menyebabkan sistitis dan bila terjadi refluks
menyebabkan pyelonefritis (Sjamsuhidajat, 2005).
F. Penatalaksanaan
Menurut Sjamsuhidjat (2005) dalam penatalaksanaan pasien dengan BPH
tergantung pada stadium-stadium dari gambaran klinis
1. Stadium
I
Pada stadium ini biasanya belum
memerlukan tindakan bedah, diberikan pengobatan konservatif, misalnya
menghambat adrenoresptor alfa seperti alfazosin dan terazosin.
Keuntungan obat ini adalah efek positif segera terhadap keluhan, tetapi tidak
mempengaruhi proses hiperplasi prostat. Sedikitpun kekurangannya adalah obat
ini tidak dianjurkan untuk pemakaian lama.
2. Stadium II
Pada stadium II merupakan indikasi
untuk melakukan pembedahan biasanya dianjurkan reseksi endoskopi melalui uretra
(trans uretra)
3. Stadium III
Pada stadium II reseksi endoskopi dapat
dikerjakan dan apabila diperkirakan prostat sudah cukup besar, sehinga reseksi
tidak akan selesai dalam 1 jam. Sebaiknya dilakukan pembedahan terbuka.
Pembedahan terbuka dapat dilakukan melalui trans vesika, retropubik dan
perineal.
4. Stadium IV
Pada stadium IV yang harus dilakukan adalah membebaskan penderita dari
retensi urin total dengan memasang kateter atau sistotomi. Setelah itu,
dilakukan pemeriksaan lebih lanjut amok melengkapi diagnosis, kemudian terapi
definitive dengan TUR atau pembedahan terbuka.
Pada penderita yang keadaan umumnya tidak memungkinkan dilakukan pembedahan
dapat dilakukan pengobatan konservatif dengan memberikan obat penghambat
adrenoreseptor alfa. Pengobatan konservatif adalah dengan memberikan obat anti
androgen yang menekan produksi LH.
G.
Pemeriksaan Penunjang
Menurut
Doenges (1999), pemeriksaan penunjang yang mesti dilakukan pada pasien dengan
BPH adalah :
Laboratorium
1). Sedimen Urin
Untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi atau inflamasi saluran
kemih.
2). Kultur Urin
Mencari jenis kuman yang menyebabkan infeksi atau
sekaligus menentukan sensitifitas kuman terhadap beberapa antimikroba yang
diujikan.
Pencitraan
1). Foto polos
abdomen
Mencari
kemungkinan adanya batu saluran kemih atau kalkulosa prostat dan kadang
menunjukan bayangan buii-buli yang penuh terisi urin yang merupakan tanda dari
retensi urin.
2). IVP (Intra
Vena Pielografi)
Mengetahui
kemungkinan kelainan ginjal atau ureter berupa hidroureter atau hidronefrosis,
memperkirakan besarnya kelenjar prostat, penyakit pada buli-buli.
3). Ultrasonografi (trans
abdominal dan trans rektal)
Untuk
mengetahui, pembesaran prostat, volume buli-buli atau mengukur sisa urin dan
keadaan patologi lainnya seperti difertikel, tumor.
4). Systocopy
Untuk
mengukur besar prostat dengan mengukur panjang uretra parsprostatika dan
melihat penonjolan prostat ke dalam rektum.
BAB III
KONSEP
ASUHAN KEPERAWATAN
A.
Pengkajian
1.
Identitas
a.
Usia : Lebih dari 50 th
b.
Jenis
kelamin : Laki-laki
2.
Riwayat
kesehatan
a.
BPH
dengan penyumbatan urinaria
b.
Kanker
prostat
3.
Perubahan
pola fungsi
a.
Sirkulasi
Tanda :
Peningkatan TD (Efek dari pembesaran ginjal)
b.
Eliminasi
Gejala : Penurunan kekuatan/dorongan aliran urin,keragu-raguan pada awal
kemih, ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih dengan lengkap, dorongan
dan frekuensi berkemih, disuria dan hematuria, duduk untk berkemih,ISK
berulang,riwayat batu,konstipasi
Tanda :
Masa padat di abdomen bawah (distensi kandung kemih), nyeri tekan kandung kemih
c.
Makanan/cairan
Gejala : Anoreksia,mual,muntah dan penurunan BB
d.
Nyeri
dan kenyamanan
Gejala : Nyeri suprapubis, panggul atau punggung kuat,tajam dan nyeri punggung
bawah.
e.
Keamanan
Gejala : Demam
f.
Seksualitas
Gejala : Masalah tentang efek kondisi/terapi pada kemampuan seksual,takut
inkontinensia/menetes selama berhubungan intim dan penurunan kekuatan kontraksi
ejakulasi
Tanda :
Pembesaran dan nyeri tekan prostat
g.
Penyulunhan
dan pembelajaran
Gejala : Riwayat keluarga kanker, hipertensi dan penyakit ginjal,
penggunaan antihipertensi atau antidepresan, antibiotic urinaria atau antigen
antibiotic, obat yang dijual bebas untuk flu/alergi obat mengandung
simpatomimetik
B.
Diagnosa
Keperawatan
1.
Gangguan
rasa nyaman,nyeri berhubungan dengan distensi kandung kemih.
2.
Defisit
volume cairan berhubungan dengan adanya perdarahan, ditandai dengan adanya
tanda-tanda dehidrasi
3.
Perubahan pola eliminasi urin berhubungan dengan obstruksi
sekunder.
4.
Disfungsi seksual berhubungan dengan
hilangnya fungsi tubuh,inkontinensia
5.
Potensial terjadinya infeksi berhubungan
dengan prosedur invasive
C. Intervensi
Dx 1
Gangguan rasa nyaman,nyeri berhubungan dengan distensi kandung kemih.
Tujuan : Setelah dilakukan perawatan selama 3x24
jam pasien mampu mempertahankan derajat kenyamanan secara adekuat.
Kriteria hasil:
a. Secara
verbal pasien mengungkapkan nyeri berkurang atau hilang
b. Pasien
dapat beristirahat dengan tenang.
Intervensi:
a. Monitor dan catat adanya rasa nyeri,
lokasi, durasi dan faktor pencetus serta penghilang nyeri.
R/
Memberikan informasi untuk membantu dalam menentukan pilihan.
b. Observasi tanda-tanda non verbal
nyeri (gelisah, kening mengkerut, peningkatan tekanan darah dan denyut nadi)
R/
Membantu untuk menentukan intervensi selanjutnya
c. Beri kompres hangat pada abdomen
terutama perut bagian bawah
R/
Meningkatkan relaksasi otot.
d. Atur
posisi klien senyaman mungkin, ajarkan teknik relaksasi dan distraksi.
R/ Meningkatkan relaksasi dan kemampuan koping
e. Anjurkan pasien untuk menghindari
stimulan (kopi, teh, merokok, abdomen tegang)
R/Agar
tidak memperberat rasa nyeri
f. Pertahankan
tirah baring selama fase nyeri.
R/ Memperbaiki pola berkemih normal dan
menghilangkan nyeri kulit.
Dx 2 Defisit
volume cairan berhubungan dengan adanya perdarahan, ditandai dengan adanya
tanda-tanda dehidrasi
Tujuan : Setelah dilakukan perawatan selama 3x 24
jam tidak terjadi deficit volume cairan
Kriteria
Hasil :
a.
Mempertahankan
dehidrasi adekuat
b.
Tanda-tanda
vital stabil
c.
Pengisian
kapiler baik
d.
Menunjukan
tidak adanya perdarahan
Intervensi
:
a.
Mengawasi
intake dan output cairan
R/ Indikator keseimbangan cairan dan kebutuhan penggantian
pada irigasi kanung kemihd
b.
Observasi
drainase kateter
R/ Perdarahan tidak umum terjadi pada 24 jam pertama
c.
Evaluasi
warna,konsistensi urine
R/ Untuk mengetahui perdarahan
d.
Inspeksi
balutan/luka drain
R/ Perdarahan dapat dibuktikan atau disingkirkan dalam
jaringan perineum
e.
Memantau
kegelisahan klien
R/ Dapat menurunkan perfusi serebral
f.
Mendorong
pemasukan cairan 3000ml
R/ Membilas ginjal/ kandung kemih dari bakteri
Dx 3 Perubahan
pola eliminasi urin berhubungan dengan obstruksi sekunder
Tujuan : Setelah dilakukan perawatan selama 3x24
jam pasien tidak mengalami retensi urin
Kriteria : Pasien dapat buang air kecil teratur
bebas dari distensi kandung kemih.
Intervensi :
a. Dorong klien BAK tiap 2-4 jam.
R/
Meminimalkan
retensi urin, distensi berlebihan pada kandung kemih.
b. Awasi dan catat waktu dan jumlah
tiap berkemih.
R/
Retensi
urin meningkatkan tekanan dalam saluran perkemihan atas, yang dapat
mempengaruhi fungsi ginjal.
c. Lakukan irigasi kateter secara
berkala / terus menerus dengan teknik steril.
R/
Menurunkan resiko infeksi asenden.
d. Observasi adanya tanda-tanda shock /
hemorargi (hematuria, dingin, kulit lembab,takikardi, dispnea).
R/
Kehilangan
fungsi ginjal mengakibatkan penurunan eliminasi cairan dan akumulasi sisa
toksik, dapat berlanjut ke penurunan ginjal total.
e. Kolaborasi dengan dokter
dalampemberian terapi anti posmodik sesuai indikasi.
R/
Menghilangkan
spasme kandung kemih sehubungan dengan iritasi oleh kateter.
Dx 4 Disfungsi seksual berhubungan dengan hilangnya fungsi
tubuh,inkontinensia
Tujuan : Setelah dilakukan perawatn selama
3x24 jam pasien mampu mempertahankan fungsi seksualnya
Kriteria hasil : Pasien menyadari keadaannya dan akan
mulai lagi interaksi seksual dan aktivitas secara optimal.
Intervensi
:
a. Motivasi klien untuk mengungkapkan
perasaannya yang berhubungan dengan perubahannya.
R/
Dapat mengalami ansietas, dan ansietas dapat mempengaruhi kemampuan
untuk menerima informasi yang diberikan sebelumnya.
b. Berikan informasi akurat tentang
harapan kembalinya fungsi seksual.
R/
Impotensi fisiologis terjadi bila syaraf perianal dipotong selama
prosedur radikal, aktivitas seksual dapat dilakukan seperti biasa dalam 6-8
minggu.
c. Diskusikan dasar anatomi.
R/
Saraf pleksus mengontrol aliran secara posterior ke prostat melalui
kapsul.
d. Meginstruksikan latihan perianal
R/
Meningkatkan control otot kontenensia urinaria dengan fungsi seksual.
Dx 5 Potensial
terjadinya infeksi berhubungan dengan prosedur invasive
Tujuan : Setelah dilakukan perawatan selama
1-3 hari pasien terbebas dari infeksi
Kriteria hasil:
a.
Tanda-tanda vital dalam batas normal
b. Tidak
ada bengkak, aritema, nyeri
c. Luka
insisi semakin sembuh dengan baik
Intervensi:
a. Lakukan irigasi kandung kemih dengan
larutan steril.
R/
Mencegah pemasukan bakteri
b. Observasi insisi (adanya indurasi
drainage dan kateter), (adanya sumbatan, kebocoran)
R/ Insisi resiko terjadinya infeksi
c. Lakukan perawatan luka insisi secara
aseptik, jaga kulit sekitar kateter dan drainage
d. Monitor tanda-tanda sepsis (nadi
lemah, hipotensi, nafas meningkat, dingin)
R/ Observasi terjadinya syok
e. Kolaborasi pemberian antibiotic
R/
Berhubungan dengan peningkatan resiko
Doenges, M.E., Marry, F..M and
Alice, C.G., 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan Dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Long, B.C., 1996. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Lab / UPF Ilmu Bedah, 1994. Pedoman Diagnosis Dan Terapi. Surabaya, Fakultas Kedokteran Airlangga / RSUD. dr. Soetomo.
Hardjowidjoto S. (1999).Benigna Prostat Hiperplasia. Airlangga University Press. Surabaya
Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Jakarta.
Long, B.C., 1996. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Lab / UPF Ilmu Bedah, 1994. Pedoman Diagnosis Dan Terapi. Surabaya, Fakultas Kedokteran Airlangga / RSUD. dr. Soetomo.
Hardjowidjoto S. (1999).Benigna Prostat Hiperplasia. Airlangga University Press. Surabaya
Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Jakarta.
Langganan:
Postingan (Atom)