Selasa, 24 April 2012

Pastel isi daging

Bahan :
10 lembar kulit pastel
2 butir putih telur
Minyak goreng secukupnya
Isi:
1/2 kg daging cincang
2 buah kentang
1 buah wortel
jamur kancing
1 buah bawang bombay
5 siung bawang merah
3 siung bawang putih
2 sdm saus tiran
Garam,gula,lada sckpnya

Cara membuat :
1. Membuat isi:Tumis bawang bombay,bawang merah,bawang putih yang sudah dipotong hingga harum.Kemudian,masukkan daging,kentang wortel yang sudah dipotong dadu.Tambahkan saus tiram,garam,gula,lada secukupnya.Tiriskan
2. Setelah itu ambil lembar kulit pastel kemudian beri isian 2 sendok.Lipat dan olesi pinggaranya denag telur agar menempel,Ulangi hingga habis.

Terimakasih

Dulunya aku sama sekali tak berniat menjadi seorang PERAWAT dimana anggapanQ dulu kalau seorang perawat adalah seorang pembantu tapi karena orang tua lah aq harus mengalah.Meskipun sudah mengikuti berbagai macam test buat jadi Guru tapi pada akhirnya ibu masih menginginkan anaknya jadi seorang tenaga kesehatan.
Tahun 2009 saat aQ mendaftarkan diri kuliah di salah satu sekolah tinggi kesehatah di kotaQ sebenarnya sangat berat karena bukan keinginanQ.Setelah ditawari oleh petugas penerima MABA"Mbak pilih prodi bidan apa perawat?".Q sempat bingung,dengan seenaknya aQ jawab "Bidan Mbak".
Setelah sampai dirumah aQ merenung,yang jadi bidan di desaQ kan banyak?lah nanti aQ kerja dimana?dari situ esoknya aku menukarkan formulir untuk prodi S1 KEPERAWATAN dimana hidupQ akan Q habiskan selama 5tahun disana.Oh My God!
Saat pengumuman aku lulus test,tapi sama sekali hatiku tak senang beda dengan MABA yang lain dimana mereka menunjukan ekspresi kesenangan mereka seperti halnya dengan ibuQ.
Perjalanan semester pertama masih Q jalani dengan terpaksa dan masih belum ikhlas dalam menjalani takdirQ, Q masih tidak suka dengan apa yang ku jalani, tapi lambat laun aQ pun mulai menyukai ilmu kesehatan dimana didalamnya terdapat banyak seni dan banyak menolong orang,dan apa yang selama ini aku bayangkan kalau PERWAT hanya seorang pembantu sama sekali tidak.Justru karena perawat lah yang sangat berjasa pada pasien,tanpa pamrih mengorbankan keluarganya demi pasien,Pagi,siang,malam rela bekerja meskipun imbalannya sesua.Perawat seharusnya dihargai seperti guru.Mustahil tanpa perawat Rumah sakit bisa berjalan.
Dan perawat adalah Mitra Dokter bukan Pembantu Dokter.Keistimewaan jadi seorang perawat Q alami saat Q praktek,meskipun lelah tapi hati senang bisa membantu orang lain yang tak berdaya.
Q mulai senang dengan kehidupan yang Q jalani sekarang,jadi mahasiswa S1 Keperawatan,seorang calon perawat ditambah aQ menemukan seseorang yang bisa mengerti aQ,selalu menemani aQ dan mensupportQ disaat Q bersedih.I LOVE U(20.09.12)
Tuhan memang adil,dy merencanakan sesuatu yang tak terduga.
Terimakasih Ibu

Askep BPH


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kelenjar prostat adalah salah satu organ genital pria yang terletak di bawah kandung kencing dan mengelilingi uretra(saluran kencing). Normal bentuknya sebesar buah kenari dengan berat pada orang dewasa sekitar 20 gram. Kelenjar prostat juga memproduksi cairan prostat yang juga merupakan salah satu unsure pembentuk semen pada wajah ejakulasi(Saraswati,2006).
Pembesaran kelenjar prostat mempunyai angka morbiditas yang bermakna pada populasi pria lanjut usia. Gejalanya merupakan keluhan yang umum dalam bidang bedah urologi. Hiperplasia prostat merupakan salah satu masalah kesehatan utama bagi pria diatas usia 50 tahun dan berperan dalam penurunan kualitas hidup seseorang. Suatu penelitian menyebutkan bahwa sepertiga dari pria berusia antara 50 dan 79 tahun mengalami hyperplasia prostat. Adanya hiperplasia ini akan menyebabkan terjadinya obstruksi saluran kemih dan untuk mengatasi obstruksi ini dapat dilakukan dengan berbagai cara mulai dari tindakan yang paling ringan yaitu secara konservatif (non operatif) sampai tindakan yang paling berat yaitu operasi (Smeltezr, 2000). Dengan teknologi dan kemajuan ilmu yang semakin canggih dalam kehidupan ini banyak membawa dampak negatif pada kehidupan masyarakat terhadap peningkatan kualitas hidup, status kesehatan, umur dan harapan hidup. Dengan kondisi tersebut merubah kondisi status penyakit infeksi yang dulu menjadi urutan pertama kini bergeser pada penyakit degeneratif yang menjadi urutan pertama. Di Amerika Serikat, terdapat lebih dari setengah (50%) pada laki-laki usia 60-70 tahun mengalami gejala-gejala BPH dan antara usia 70-90 tahun sebanyak 90% mengalami gejala-gejala BPH. Hasil riset menunjukkan bahwa laki-laki di daerah pedesaan sangat rendah terkena BPH dibanding dengan laki-laki yang hidup di daerah perkotaan. Hal ini terkait dengan gaya hidup seseorang.Laki-laki yang bergaya hidup modern kebih besar terkena BPH dibanding dengan laki-laki pedesaan (Madjid dan Suharyanto, 2009).
Di Indonesia pada usia lanjut, beberapa pria mengalami pembesaran prostat benigna. Keadaan ini di alami oleh 50% pria yang berusia 60 tahun dan kurang lebih 80% pria yang berusia 80 tahun (Nursalam dan Fransisca,2006). Menurut pengamatan peneliti selama praktek 1 bulan di Rumah Sakit Umum Daerah Sukoharjo pada tanggal 12 november 2010, di ruang rawat inap khususnya bangsal bedah Anggrek, dari 30 pasien terdapat 5 pasien yang menderita BPH rata-rata penderita berusia di atas 50 tahun dan berjenis kelamin laki-laki.
B.     Rumusan Masalah
C.     Tujuan
1.      Tujuan Umum
Mahasiswa dapat memahami dan menerapkan asuhan keperawatan pada pasien BPH
2.      Tujuan Khusus





































BAB II
PEMBAHASAN


A.     Pengertian
Hiperplasia prostat adalah pembesanan prostat yang jinak bervariasi berupa hiperplasia kelenjar atau hiperplasia fibromuskular. Namun orang sering menyebutnya dengan hipertropi prostat namun secara histologi yang dominan adalah hyperplasia (Sabiston, David C,1994)
Hiperplasia prostat jinak (BPH) adalah penyakit yang disebabkan oleh penuaan. Price&Wilson (2005)
Hiperplasi prostat adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat ( secara umum pada pria > 50 tahun) yang menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretra dan pembiasan aliran urinarius. (Doenges, 1999)
BPH adalah suatu keadaan dimana prostat mengalami pembesaran memanjang keatas kedalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan cara menutupi orifisium uretra. (Smeltzer dan Bare, 2002)
Jadi BPH (benign prostatic hyperplasia) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh faktor penuaan, dimana prostat mengalami pembesaran memanjang keatas kedalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan cara menutupi orifisium uretra. Prostatektomy merupakan tindakan pembedahan bagian prostate (sebagian/seluruh) yang memotong uretra, bertujuan untuk memeperbaiki aliran urin dan menghilangkan retensi urinaria akut.

B.     Etiologi
Menurut Purnomo (2000), hingga sekarang belum diketahui secara pasti penyebab prostat hiperplasi, tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasi prostat erat kaitannya dengan peningkatan kadar dehidrotestosteron (DHT) dan proses penuaan. Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya hiperplasi prostat adalah :
1.      Adanya perubahan keseimbangan antara hormon testosteron dan estrogen pada usia lanjut;
2.      Peranan dari growth factor (faktor pertumbuhan) sebagai pemicu pertumbuhan stroma kelenjar prostat;
3.      Meningkatnya lama hidup sel-sel prostat karena berkurangnya sel yang mati;
4.      Teori sel stem, menerangkan bahwa terjadi proliferasi abnormal sel stem sehingga menyebabkan produksi sel stroma dan sel epitel kelenjar prostat menjadi berlebihan.
Pada umumnya dikemukakan beberapa teori :
1.      Teori Sel Stem, sel baru biasanya tumbuh dari sel srem. Oleh karena suatu sebab seperti faktor usia, gangguan keseimbangan hormon atau faktor pencetus lain. Maka sel stem dapat berproliferasi dengan cepat, sehingga terjadi hiperplasi kelenjar periuretral.
2.     Teori kedua adalah teori Reawekering (Neal, 1978) menyebutkan bahwa jaringan kembali seperti perkembangan pada masa tingkat embriologi sehingga jaringan periuretral dapat tumbuh lebih cepat dari jaringan sekitarnya.
3.     Teori lain adalah teori keseimbangan hormonal yang menyebutkan bahwa dengan bertanbahnya umur menyebabkan terjadinya produksi testoteron dan terjadinya konversi testoteron menjadi setrogen. ( Kahardjo, 1995).

C.     Manifestasi Klinik
Gambaran klinis pada hiperplasi prostat digolongkan dua tanda gejala yaitu obstruksi dan iritasi. Gejala obstruksi disebabkan detrusor gagal berkontraksi dengan cukup lama dan kuat sehingga mengakibatkan: pancaran miksi melemah, rasa tidak puas sehabis miksi, kalau mau miksi harus menunggu lama (hesitancy), harus mengejan (straining) kencing terputus-putus (intermittency), dan waktu miksi memanjang yang akhirnya menjadi retensio urin dan inkontinen karena overflow.
Gejala iritasi, terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna atau pembesaran prostat akan merangsang kandung kemih, sehingga sering berkontraksi walaupun belum penuh atau dikatakan sebagai hipersenitivitas otot detrusor dengan tanda dan gejala antara lain: sering miksi (frekwensi), terbangun untuk miksi pada malam hari (nokturia), perasaan ingin miksi yang mendesak (urgensi), dan nyeri pada saat miksi (disuria) (Mansjoer, 2000)
Derajat berat BPH menurut Sjamsuhidajat (2005) dibedakan menjadi 4 stadium :
1.       Stadium I
Ada obstruktif tapi kandung kemih masih mampu mengeluarkan urine sampai habis.
2.       Stadium II
Ada retensi urine tetapi kandung kemih mampu mengeluarkan urine walaupun tidak sampai habis, masih tersisa kira-kira 60-150 cc. Ada rasa ridak enak BAK atau disuria dan menjadi nocturia.
3.       Stadium III
Setiap BAK urine tersisa kira-kira 150 cc.
4.      Stadium IV
Retensi urine total, buli-buli penuh pasien tampak kesakitan, urine menetes secara peri       odik (over flow inkontinen).
Menurut Brunner and Suddarth (2002) menyebutkan bahwa :
Manifestasi dari BPH adalah peningkatan frekuensi penuh, nokturia, dorongan ingin berkemih, anyang-anyangan, abdomen tegang, volume urine yang turun dan harus mengejan saat berkemih, aliran urine tak lancar, dribbing (urine terus menerus setelah berkemih), retensi urine akut.
Adapun pemeriksaan kelenjar prostat melalui pemeriksaan di bawah ini :
1.       Rectal Gradding
Dilakukan pada waktu vesika urinaria kosong :
Grade 0 : Penonjolan prostat 0-1 cm ke dalam rectum.
Grade 1 : Penonjolan prostat 1-2 cm ke dalam rectum.
Grade 2 : Penonjolan prostat 2-3 cm ke dalam rectum.
Grade 3 : Penonjolan prostat 3-4 cm ke dalam rectum.
Grade 4 : Penonjolan prostat 4-5 cm ke dalam rectum.
2.       Clinical Gradding
Banyaknya sisa urine diukur tiap pagi hari setelah bangun tidur, disuruh kencing dahulu kemudian dipasang kateter.
Normal : Tidak ada sisa
Grade I : sisa 0-50 cc
Grade II : sisa 50-150 cc
Grade III : sisa > 150 cc
Grade IV : pasien sama sekali tidak bisa kencing.






                              
D.     Patofisiologi




E.      Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi pada pasien BPH antara lain: sering dengan semakin beratnya BPH, dapat terjadi obstruksi saluran kemih, karena urin tidak mampu melewati prostat. Hal ini dapat menyebabkan infeksi saluran kemih dan apabila tidak diobati, dapat mengakibatkan gagal ginjal. (Corwin, 2000)
Kerusakan traktus urinarius bagian atas akibat dari obstruksi kronik mengakibatkan penderita harus mengejan pada miksi yang menyebabkan peningkatan tekanan intraabdomen yang akan menimbulkan hernia dan hemoroid. Stasis urin dalam vesiko urinaria akan membentuk batu endapan yang menambah keluhan iritasi dan hematuria. Selain itu, stasis urin dalam vesika urinaria menjadikan media pertumbuhan mikroorganisme, yang dapat menyebabkan sistitis dan bila terjadi refluks menyebabkan pyelonefritis (Sjamsuhidajat, 2005).
F.      Penatalaksanaan
Menurut Sjamsuhidjat (2005) dalam penatalaksanaan pasien dengan BPH tergantung pada stadium-stadium dari gambaran klinis
1.    Stadium I
Pada stadium ini biasanya belum memerlukan tindakan bedah, diberikan pengobatan konservatif, misalnya menghambat adrenoresptor alfa seperti alfazosin dan terazosin. Keuntungan obat ini adalah efek positif segera terhadap keluhan, tetapi tidak mempengaruhi proses hiperplasi prostat. Sedikitpun kekurangannya adalah obat ini tidak dianjurkan untuk pemakaian lama.
2.   Stadium II
Pada stadium II merupakan indikasi untuk melakukan pembedahan biasanya dianjurkan reseksi endoskopi melalui uretra (trans uretra)
3.    Stadium III
Pada stadium II reseksi endoskopi dapat dikerjakan dan apabila diperkirakan prostat sudah cukup besar, sehinga reseksi tidak akan selesai dalam 1 jam. Sebaiknya dilakukan pembedahan terbuka. Pembedahan terbuka dapat dilakukan melalui trans vesika, retropubik dan perineal.
4.   Stadium IV
Pada stadium IV yang harus dilakukan adalah membebaskan penderita dari retensi urin total dengan memasang kateter atau sistotomi. Setelah itu, dilakukan pemeriksaan lebih lanjut amok melengkapi diagnosis, kemudian terapi definitive dengan TUR atau pembedahan terbuka.
Pada penderita yang keadaan umumnya tidak memungkinkan dilakukan pembedahan dapat dilakukan pengobatan konservatif dengan memberikan obat penghambat adrenoreseptor alfa. Pengobatan konservatif adalah dengan memberikan obat anti androgen yang menekan produksi LH.
G.    Pemeriksaan Penunjang
Menurut Doenges (1999), pemeriksaan penunjang yang mesti dilakukan pada pasien dengan BPH adalah :
Laboratorium
1). Sedimen Urin
Untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi atau inflamasi saluran kemih.
2). Kultur Urin
Mencari jenis kuman yang menyebabkan infeksi atau sekaligus menentukan sensitifitas kuman terhadap beberapa antimikroba yang diujikan.
Pencitraan
1). Foto polos abdomen
Mencari kemungkinan adanya batu saluran kemih atau kalkulosa prostat dan kadang menunjukan bayangan buii-buli yang penuh terisi urin yang merupakan tanda dari retensi urin.
2). IVP (Intra Vena Pielografi)
Mengetahui kemungkinan kelainan ginjal atau ureter berupa hidroureter atau hidronefrosis, memperkirakan besarnya kelenjar prostat, penyakit pada buli-buli.
3). Ultrasonografi (trans abdominal dan trans rektal)
Untuk mengetahui, pembesaran prostat, volume buli-buli atau mengukur sisa urin dan keadaan patologi lainnya seperti difertikel, tumor.
4). Systocopy
Untuk mengukur besar prostat dengan mengukur panjang uretra parsprostatika dan melihat penonjolan prostat ke dalam rektum.
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A.     Pengkajian
1.      Identitas
a.       Usia                 : Lebih dari 50 th
b.      Jenis kelamin   : Laki-laki
2.      Riwayat kesehatan
a.       BPH dengan penyumbatan urinaria
b.      Kanker prostat
3.      Perubahan pola fungsi
a.       Sirkulasi
Tanda  : Peningkatan TD (Efek dari pembesaran ginjal)
b.      Eliminasi
Gejala  : Penurunan kekuatan/dorongan aliran urin,keragu-raguan pada awal kemih, ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih dengan lengkap, dorongan dan frekuensi berkemih, disuria dan hematuria, duduk untk berkemih,ISK berulang,riwayat batu,konstipasi
Tanda  : Masa padat di abdomen bawah (distensi kandung kemih), nyeri tekan kandung kemih
c.       Makanan/cairan
Gejala  : Anoreksia,mual,muntah dan penurunan BB
d.      Nyeri dan kenyamanan
Gejala  : Nyeri suprapubis, panggul atau punggung kuat,tajam dan nyeri punggung bawah.
e.       Keamanan
Gejala  : Demam
f.       Seksualitas
Gejala  : Masalah tentang efek kondisi/terapi pada kemampuan seksual,takut inkontinensia/menetes selama berhubungan intim dan penurunan kekuatan kontraksi ejakulasi
Tanda  : Pembesaran dan nyeri tekan prostat
g.       Penyulunhan dan pembelajaran
Gejala  : Riwayat keluarga kanker, hipertensi dan penyakit ginjal, penggunaan antihipertensi atau antidepresan, antibiotic urinaria atau antigen antibiotic, obat yang dijual bebas untuk flu/alergi obat mengandung simpatomimetik

B.     Diagnosa Keperawatan
1.      Gangguan rasa nyaman,nyeri berhubungan dengan distensi kandung kemih.
2.      Defisit volume cairan berhubungan dengan adanya perdarahan, ditandai dengan adanya tanda-tanda dehidrasi
3.       Perubahan pola eliminasi urin berhubungan dengan obstruksi sekunder.
4.       Disfungsi seksual berhubungan dengan hilangnya fungsi tubuh,inkontinensia
5.      Potensial terjadinya infeksi berhubungan dengan prosedur invasive

C.     Intervensi
              Dx 1 Gangguan rasa nyaman,nyeri berhubungan dengan distensi kandung kemih.
Tujuan : Setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam pasien mampu mempertahankan derajat kenyamanan secara adekuat.
Kriteria hasil:
a. Secara verbal pasien mengungkapkan nyeri berkurang atau hilang
b. Pasien dapat beristirahat dengan tenang.
Intervensi:
a.       Monitor dan catat adanya rasa nyeri, lokasi, durasi dan faktor pencetus serta penghilang nyeri.
R/ Memberikan informasi untuk membantu dalam menentukan pilihan.
b.      Observasi tanda-tanda non verbal nyeri (gelisah, kening mengkerut, peningkatan tekanan darah dan denyut nadi)
R/ Membantu untuk menentukan intervensi selanjutnya
c.       Beri kompres hangat pada abdomen terutama perut bagian bawah
R/ Meningkatkan relaksasi otot.
d.      Atur posisi klien senyaman mungkin, ajarkan teknik relaksasi dan distraksi.
R/ Meningkatkan relaksasi dan kemampuan koping
e.       Anjurkan pasien untuk menghindari stimulan (kopi, teh, merokok, abdomen tegang)
R/Agar tidak memperberat rasa nyeri
f.       Pertahankan tirah baring selama fase nyeri.
R/ Memperbaiki pola berkemih normal dan menghilangkan nyeri kulit.

Dx 2 Defisit volume cairan berhubungan dengan adanya perdarahan, ditandai dengan adanya tanda-tanda dehidrasi
Tujuan   : Setelah dilakukan perawatan selama 3x 24 jam tidak terjadi deficit volume cairan
Kriteria Hasil    :
a.          Mempertahankan dehidrasi adekuat
b.         Tanda-tanda vital stabil
c.          Pengisian kapiler baik
d.         Menunjukan tidak adanya perdarahan
Intervensi :
a.       Mengawasi intake dan output cairan
R/ Indikator keseimbangan cairan dan kebutuhan penggantian pada irigasi kanung kemihd
b.      Observasi drainase kateter
R/ Perdarahan tidak umum terjadi pada 24 jam pertama
c.       Evaluasi warna,konsistensi urine
R/ Untuk mengetahui perdarahan
d.      Inspeksi balutan/luka drain
R/ Perdarahan dapat dibuktikan atau disingkirkan dalam jaringan perineum
e.       Memantau kegelisahan klien
R/ Dapat menurunkan perfusi serebral
f.       Mendorong pemasukan cairan 3000ml
R/ Membilas ginjal/ kandung kemih dari bakteri

Dx 3 Perubahan pola eliminasi urin berhubungan dengan obstruksi sekunder
Tujuan : Setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam pasien tidak mengalami retensi urin
Kriteria : Pasien dapat buang air kecil teratur bebas dari distensi kandung kemih.
Intervensi :
a.       Dorong klien BAK tiap 2-4 jam.
R/ Meminimalkan retensi urin, distensi berlebihan pada kandung kemih.
b.      Awasi dan catat waktu dan jumlah tiap berkemih.
R/ Retensi urin meningkatkan tekanan dalam saluran perkemihan atas, yang dapat mempengaruhi fungsi ginjal.
c.       Lakukan irigasi kateter secara berkala / terus menerus dengan teknik steril.
R/ Menurunkan resiko infeksi asenden.
d.      Observasi adanya tanda-tanda shock / hemorargi (hematuria, dingin, kulit lembab,takikardi, dispnea).
R/ Kehilangan fungsi ginjal mengakibatkan penurunan eliminasi cairan dan akumulasi sisa toksik, dapat berlanjut ke penurunan ginjal total.
e.       Kolaborasi dengan dokter dalampemberian terapi anti posmodik sesuai indikasi.
R/ Menghilangkan spasme kandung kemih sehubungan dengan iritasi oleh kateter.

Dx 4 Disfungsi seksual berhubungan dengan hilangnya fungsi tubuh,inkontinensia
Tujuan : Setelah dilakukan perawatn selama 3x24 jam pasien mampu mempertahankan fungsi seksualnya
Kriteria hasil : Pasien menyadari keadaannya dan akan mulai lagi interaksi seksual dan aktivitas secara optimal.
Intervensi :
a.       Motivasi klien untuk mengungkapkan perasaannya yang berhubungan dengan perubahannya.
                                   
R/ Dapat mengalami ansietas, dan ansietas dapat mempengaruhi kemampuan untuk menerima informasi yang diberikan sebelumnya.
b.      Berikan informasi akurat tentang harapan kembalinya fungsi seksual.
R/ Impotensi fisiologis terjadi bila syaraf perianal dipotong selama prosedur radikal, aktivitas seksual dapat dilakukan seperti biasa dalam 6-8 minggu.
c.       Diskusikan dasar anatomi.
R/ Saraf pleksus mengontrol aliran secara posterior ke prostat melalui kapsul.
d.      Meginstruksikan latihan perianal
R/ Meningkatkan control otot kontenensia urinaria dengan fungsi seksual.

Dx 5 Potensial terjadinya infeksi berhubungan dengan prosedur invasive
Tujuan : Setelah dilakukan perawatan selama 1-3 hari pasien terbebas dari infeksi
Kriteria hasil:
a. Tanda-tanda vital dalam batas normal
b. Tidak ada bengkak, aritema, nyeri
c. Luka insisi semakin sembuh dengan baik
Intervensi:
a.       Lakukan irigasi kandung kemih dengan larutan steril.
R/ Mencegah pemasukan bakteri
b.      Observasi insisi (adanya indurasi drainage dan kateter), (adanya sumbatan, kebocoran)
      R/ Insisi resiko terjadinya infeksi
c.       Lakukan perawatan luka insisi secara aseptik, jaga kulit sekitar kateter dan drainage
d.      Monitor tanda-tanda sepsis (nadi lemah, hipotensi, nafas meningkat, dingin)
      R/ Observasi terjadinya syok
e.       Kolaborasi pemberian antibiotic
R/ Berhubungan dengan peningkatan resiko


Doenges, M.E., Marry, F..M and Alice, C.G., 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Long, B.C., 1996. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Lab / UPF Ilmu Bedah, 1994. Pedoman Diagnosis Dan Terapi. Surabaya, Fakultas Kedokteran Airlangga / RSUD. dr. Soetomo.

Hardjowidjoto S. (1999).Benigna Prostat Hiperplasia. Airlangga University Press. Surabaya

Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Jakarta.